Syair Ranggawarsito
(Pujangga Karaton Solo)
tulisan oleh:
Kandjeng Pangeran Karyonagoro, 2005
Amenangi jaman edan
ewuh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
yen tan melu anglakoni
boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Dilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
luwih begja kang eling lawan waspada”
(Pupuh 7, Serat Kalatidha)
Terjemahan :
Mengalami jaman gila
sukar sulit (dalam) akal ikhtiar
Turut gila tidak tahan
kalau tak turut menjalaninya
tidak kebagian milik
kelaparanlah akhirnya
Takdir kehendak Allah
sebahagia-bahagianya yang lupa
lebih berbahagia yang sadar serta waspada”.
- Syair jaman edan, dimana manusia kehilangan dasar sikap dan perilaku
yang benar.
- Di dalam Serat Kalatidha, Sabda Pranawa Jati Ki pujangga melihat
kesusahan yang terjadi pada jaman itu .
Rajanya utama, patihnya pandai dan menteri-menterinya mencita-citakan
kesejahteraan rakyat serta semua pegawai-pegawainya cakap. Akan tetapi banyak
kesukaran-kesukaran menimpa negeri; orang bingung, resah dan sedih pilu, serta
dipenuhi rasa kuatir dan takut. Banyak orang pandai dan berbudi luhur jatuh
dari kedudukannya. Banyak pula yang sengaja menempuh jalan salah . . . harga
diri turun . . . akhlak merosot. Pada waktu-waktu seperti itu berbahagialah
mereka yang sadar/ingat dan waspada.
- Menghadapi jaman seperti itu Ki Ronggowarsito memberikan
petuah-petuahnya, yaitu yang dapat disebut sebagai empat pedoman hidup.
Tawakal marang Hyang Gusti
- Pedoman yang pertama; yaitu
kepercayaan iman dan pengharapan kepada Tuhan.
- Pedoman inilah yang menjadi
dasar hidup, perilaku dan karya manusia.
1. “Mupus papasthening takdir, puluh-puluh anglakoni kaelokan” (Pupuh
6, Kalatidha).
Arti :
Menyadari ketentuan takdir, apa boleh buat (harus) mengalami keajaiban.
Manusia hidup harus menerima keputusan Tuhan.
2. “Dialah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih becik eling
lawan waspada.” (Pupuh 7, Kalatidha)
Arti :
- Memanglah kehendak Allah, sebahagia-babagianya yang lupa, lebih
bahagia yang sadar ingat dan waspada.
- Manusia harus selalu menggantungkan diri kepada kehendak (karsa)
Allah.
- Karsa atau kehendak Allah itu seperti yang tersirat dalam ajaran
agama, kitab suci, hukum-hukum alam, adat istiadat dan ajaran leluhur.
3. Muhung mahasing ngasepi, supaya antuk parimirmaning Hyang suksma. (Pupuh
8, Kalatidha)
Arti: Sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat
kasih sayang Tuhan.
- Di kala ingin mendekatkan jiwa pada Tuhan, memang pikiran dan nafsu
harus terlepas dari hal keduniawian.
- Supaya antuk: Supaya dilimpahi Parimirmaning Hyang suksma; Kasih
sayang Tuhan.
4. Saking mangunah prapti, Pangeran paring pitulung. (Pupuh 9,
Kalatidha)
Arti: Pertolongan datang dari Tuhan, Tuhan melimpahkan pertolongan.
- Hanya Dia, Puji sekalian alam, Gembala yang baik, yang dapat menolong
manusia dalam kesusahannya.
- Mangunah : Pertolongan Tuhan
- Prapti : Datang.
5. Kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma.
(Pupuh 10, Kalatidha)
Arti: Disertai dasar/awas dan ingat, bertujuan mendapatkan kasih sayang
Tuhan.
6. Ya Allah ya Rasululah kang sifat murah lan asih. (Pupuh 11,
Kalatidha)
Arti : Ya Allah ya nabi yang pemurah dan pengasih.
7. Badharing sapudendha, antuk mayar sawatawis, borong angga suwarga
mesti martaya. (Pupuh 12, Kalatidha)
Arti:
(Untuk) urungnya siksaan (Tuhan), mendapat keringanan sekedarnya, (sang
pujangga) berserah diri (memohon) sorga berisi kelanggengan.
- Pengakuan kepercayaan bahwa pada Tuhanlah letak kesalamatan manusia.
Pupuh-pupuh tambahan:
8. Setyakenang naya atoh pati, yeka palayaraning atapa, gunung wesi
wasitane tan kedap ing pan dulu ning dumadi dadining bumi, akasa mwang; riya
sasania paptanipun, jatining purba wisesa, tan ana lara pati kalawan urip,
uripe tansah tungga”. (Pupuh 88, Nitisruti)
Arti:
Bersumpahlah diri dengan niat memakai tuntunan (akan) mempertaruhkan
nyawa, yaitulah laku orang bertapa di (atas) gunung besi (peperangan) menurut
bunyi petuah. Tak akan salah pandangannya terhadap segala makhluk dan
terjadinya bumi dan langit serta segala isinya. Sekaliannya itu sifat Tuhan;
tak ada mati, hiduppun tiada, hidupnya sudah satu dengan yang Maha suci.
- Karya sastra Nitisruti ditulis oleh Pangeran di Karangayam (Pajang),
pada tahun saka atau 1591 M.
- Mengenai tekad untuk mengenal Tuhan dan rahasiaNya.
- Mengenal kekuasaan di balik ciptaan-Nya, karena sudah bersatu dengan
Gusti-Nya.
9. Sinaranan mesu budya, dadya sarananing urip, ambengkas harda rubeda,
binudi kalayan titi, sumingkir panggawe dudu, dimene katarbuka, kakenan gaibing
widi. (Dari serat Pranawajati)
Arti:
Syaratnya ialah memusatkan jiwa, itulah jalannya di dalam hidup,
menindas angkara yang mengganggu, diusahakan dengan teliti, tersingkirkanlah
perbuatan salah, supaya terbukalah mengetahui rahasia Tuhan.
- Serat Pranawajati ditulis oleh Ki R.anggawarsita
- Pupuh ini menjelaskan jalan kebatinan untuk mencapai (rahasia) Tuhan.
10. Pamanggone aneng pangesthi rahayu, angayomi ing tyas wening,
heninging ati kang suwung, nanging sejatine isi, isine cipta kang yektos”.
(Dari serat Sabda Jati)
Arti:
Tempatnya ialah di dalam cita-cita sejahtera, meliputi hati yang
terang, hati yang suci kosong, tapi sesungguhnya berisi, isinya cipta sejati.
11. Demikianlah orang yang dikasihi Tuhan, yang selalu mencari-Nya
untuk memuaskan dahaga batin. Ia akan berbahagia dan merasa tentram sejahtera;
sadar akan arti hidup maupun tujuan hidup manusia. Pembawaannya rela, jujur dan
sabar; pasrah, sumarah lan nanima, berbudi luhur dan teguh dihati.
Eling lawan Waspada
- Pedoman yang kedua; yaitu sikap hidup yang selalu sadar-ingat dan
waspada.
- Pedoman inilah yang menjaga manusia hingga tidak terjerumus ke dalam
lembah kehinaan dan malapetaka.
Pupuh-pupuh :
1. Dilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali luwih becik kang eling
lawan waspada. (Pupuh 1, Kalatidha)
Arti :
akdir kehendak Allah, sebahagia-bahagianya yang lupa, lebih bahagia
yang sadar / ingat dan waspada.
2. Yen kang uning marang sejatining kawruh, kewuhan sajroning ati, yen
tan niru nora arus, uripe kaesi-esi, yen niruwa dadi asor. (Pupuh 8, Sabda
Jati)
Arti:
Bagi yang tidak mengetahui ilmu sejati bimbanglah di dalam hatinya,
kalau tidak meniru (perbuatan salah) tidak pantas, hidupnya diejek-ejek, kalau
meniru (hidupnya} menjadi rendah.
3. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung, anggelar sekalir-kalir,
kalamun temen tinemu, kabegjane anekani, kamurahaning Hyang Manon”. (Pupuh 9,
Sabda Jati)
Arti :
Tidak percaya kepada gaib Tuhan, yang membentangkan seluruh alam, kalau
benar-benar usahanya, mestilah tercapai cita-citanya, kebabagiaannya datang,
itulah kemurahan Tuhan.
- Serat Sabda Jati adalah juga ditulis oleh pujangga Ki Ranggawarsita.
- Pupuh 8 membicarakan keragu-raguan hati karena melihat banyak orang
menganggap perbuatan salah sebagai sesuatu yang wajar.
- Akan tetapi bagi yang sadar/ingat dan waspada, tuntunan Tuhan akan
datang membawa kebahagiaan batin.
4. Mangka kanthining tumuwuh, salami mung awas eling, eling lukitaning
alam, dadi wiryaning dumadi, supadi nir ing Sangsaya, yeku pangreksaning urip.
(Pupuh 83, Wedhatama)
Arti :
Untuk kawan hidup, selamanya hanyalah awas dan ingat ingat akan sasmita
alam, menjadi selamatlah hidupnya, supaya bebas dari kesukaran, itulah yang
menjaga kesejahteraan hidup.
5. Dene awas tegesipun, weruh warananing urip, miwah wisesaning Tunggal,
kang atunggil rina wengi, kang makitun ing sakarsa, gumelar ngalam sekalir.
(Pupuh 86, Wedhatama)
Arti :
Adapun awas artinya, tahu akan tabir di dalam hidup, dan kekuasaan
Hyang Maha Tunggal, yang bersatu dengan dirinya siang malam, yang meliputi segala
kehendak, disegenap alam seluruhnya.
- Wedhatama ditulis oleh Pangeran Mangkunegara IV.
6. Demikianlah sikap hidup yang berdasarkan “Eling lawan waspada”;
yaitu selalu mengingat kehendak Tuhan sehingga tetap waspada dalam berbuat;
untuk tidak mendatangkan celaka. Kehendak Tuhan mendapat dicari/ditemukan di
dalam hukum alam, wahyu jatmika yang tertulis dalam kitab suci maupun karya
sastra, adat-istiadat, nasehat leluhur/orang tua dan cita-cita masyarakat.
7. Eling” juga berarti selalu mengingat perbuatan yang telah dilakukan,
baik maupun buruk, agar “waspada” dalam berbuat. Berkat sikap “eling lawan
waspada” ini, terasalah ada kepastian dalam langkah-langkah hidup.
Rame ing gawe.
- Pedoman hidup yang ketiga, yaitu hidup manusia yang dihiasi daya-upaya
dan kerja keras.
- Menggantungkan diri pada
wasesa dan karsa Hyang Gusti adalah sama dengan menerima takdir.
Karena siapakah yang dapat meriolak kehendak Nya?
1. Ada tertulis:
Tidak ada sahabat yang melebihi (ilmu) pengetahuan Tidak ada musuh yang
berbahaya dan pada nafsu jahat dalam hati sendiri Tidak ada cinta melebihi
cinta orang tua kepada anak-anaknya Tidak ada kekuatan yang menyamai nasib,
karena kekuatan nasib tidak tertahan oleh siapapun”. (Ayat 5, Bagian II Kitab
Nitiyastra).
2. Tetapi apakah kekuatiran atau ketakutan akan nasib menjadi akhir dan
pada usaha atau daya upaya manusia? Berhentikah manusia berupaya apabila
kegagalan menghampiri kerjanya?
3. Karana riwayat muni, ikhtiar iku yekti, pamilihe reh rahayu, sinambi
budi daya, kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma. (Pupuh 10, Kalatidha)
Arti :
Karena cerita orang tua mengatakan, ikhtiar itu sungguh-sungguh,
pemilih jalan keselamatan, sambil berdaya upaya disertai awas dan ingat, yang
dimaksudkan mendapat kasih sayang Tuhan.
- Menerima takdir sebagai keputusan terakhir, tidak berarti
mengesampingkan ikhtiar sebagai permulaan daripada usaha.
4. Kuneng lingnya Ramadayapati, angandika Sri Rama Wijaya, heh bebakal
sira kiye, gampang kalawan ewuh, apan aria ingkang akardi, yen waniya ing
gampang, wediya ing kewuh, sabarang nora tumeka, yen antepen gampang ewuh dadi
siji, ing purwa nora ana. (Tembang Dandanggula, Serat Rama)
Arti :
Haria sehabis haturnya Ramadayapati (Hanoman), bersabdalah Sri Rama :
Hai, kau itu dalam permulaan melakukan kewajiban, ada gampang dan ada sukar,
itu adalah (Tuhan) yang membuat. Kalau berani akan gampang; takut akan yang
sukar, segala sesuatu tidak akan tercapai. Bila kau perteguh hatimu, gampang
dan sukar menjadi satu, (itu) tidak ada, tidak dikenal dalam permulaan (usaha).
5. Demikianlah, takdir yang akan datang kelak tidak seharusnya
menghentikan usaha manusia. Niat yang tidak baik adalah niat “mencari yang
mudah, menghindari yang sukar”. Semua kesukaran atau tugas harus dihadapi
dengan keteguhan hati. “Rame ing gawe” dan “Rawe-rawe rantas malang-malang
putung” adalah semangat usaha yang lahir dari keteguhan hati itu.
Catatan:
Pupuh ke empat adalah cuplikan dari serat Rama, yang ditulis oleh Ki
Yosadipura. (1729 – 1801 M)
IV. Mawasdiri:
- Pedoman hidup yang keempat, yaitu perihal mempelajari pribadi dan
jiwa sendiri; yang merupakan tugas
semua mamusia hidup.
Pupuh-pupuh:
1. Wis tua arep apa, muhung mahasing ngasepi, supayantuk parimirmaning
Hyang Suksma. (Pupuh 8, Kalatidha)
Arti :
Sudah tim mau apa, sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian,
supaya mendapat/kasih sayang Tuhan.
- Nasehat agar tingkat orang yang telah berumur menunjukkan martabat.
2. Jinejer neng wedhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi,
sanadyan ta tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepi lir sepah samun,
samangsaning pakumpulan, gonyak-ganyuk ngliling semi. (Pupuh 2, Pangkur,
Wedhatama)
Arti:
Ajarannya termuat dalam Wedhatama, agar supaya tak kendor hasrat
usahanya memberi nasehat, (sebab) meskipun sudah tua bangka, kalau tak ketahuan
kebatinan, tentulah sepi hambar bagaikan tak berjiwa, pada waktu di dalam
pergaulan, kurang adat memalukan.
3. Pangeran Mangkubumi ing pambekanipun. Kang tinulad lan tinuri-luri,
lahir prapteng batos, kadi nguni ing lelampahane, eyang tuwan kan jeng
senopati, karem mawas diri, mrih sampurneng kawruh.Kawruh marang wekasing
dumadi, dadining lalakon, datan samar purwa wasanane, saking dahat waskitaning
galih, yeku ing ngaurip, ran manungsa punjul. (Dari babad Giyanti)
Arti :
Pangeran Mangkubumi budi pekertinya. Yang ditiru dan dijunjung tinggi,
lahir sampai batin, seperti dahulu sejarahnya, nenek tuan kanjeng senopati
gemar mawas diri untuk kesempumaan ilmunya. Ilmu tentang kesudahan hidup, jadinya
lelakon, tidak ragu akan asal dan kesudahannya (hidup), karena amat waspada di
dalam hatinya, itulah hidup, disebut manusia lebih (dari sesamanya).
- Babad Giyanti ditulis oleh pujangga Yasadipura I. Isinya memberi
contoh tentang seseorang yang selalu mawas diri, yaitu Panembahan Senopati.
4. Mawas diri adalah usaha meneropong diri sendiri dan dengan penuh
keberanian mengubah pribadinya. Maka inilah asal dan akhir dari pada keteguhan
lahir dan batin.
5. Laku lahir lawan batin, yen sampun gumolong, janma guna utama arane,
dene sampun amengku mengkoni, kang cinipta dadi, kang sinedya rawuh”. (Dari
babad Giyanti)
Arti :
Amalan lahir dan batin, bilamana sudah bersatu dalam dirinya, yang
demikian itu disebut manusia pandai dan utama, karena ia sudah menguasai dan
meliputi, maka yang dimaksudkan tercapai, yang dicita-citakan terkabul.
6. Nadyan silih prang ngideri bumi, mungsuhira ewon, lamun angger
mantep ing idhepe, pasrah kumandel marang Hyang Widi, gaman samya ngisis, dadya
teguh timbul).” (Tembung Mijil, Dari babad Giyanti)
Arti :
Meski sekalipun perang mengitari jagad, musuhnya ribuan, tetapi asal
anda tetap di dalam hati, berserah diri percaya kepada Tuhan, semua senjata
tersingkirkan, menjadi teguh kebal.
7. Demikianlah ajaran Ki Ranggawarsita, yaitu mengenai empat pedoman
hidup. Begitulah orang yang menggantungkan dirinya kepada kekuasaan Tuhan dan
menerima tuntunan-Nya. Ia akan memiliki kepercayaan pada diri sendiri, tetapi
tanpa disertai kesombongan maupun keangkaraan.
Cita-cita kemasyarakatan.
1. Ki pujangga Ranggawarsito mencita-citakan pula datangnya jaman
Kalasuba, yaitu jaman pemerintahan Ratu Adil Herucakra. Karena itu beliau
merupakan seorang penyambung lidah rakyatnya, yang menciptakan masyarakat “panjang
punjung tata karta raharja” …. “gemah ripah loh jinawi” ….loh subur kang sarwa
tinandur” dimana “wong cilik bakal gumuyu.
2. Tiga hal yang pantas diperjuangkan, untuk menegakkan pemerintahan
Ratu Adil; yaitu: Bila semua meninggalkan perbuatan buruk, bila ada persatuan
dan bila hadir pemimpin-pemimpin negara yang tidak tercela lahir batinnya.
3. Dengarlah!
4. Ninggal marang pakarti tan yukti, teteg tata ngastuti parentah,
tansah saregep ing gawe, ngandhap lan luhur jumbuh, oaya ana cengil-cengil, tut
runtut golong karsa, sakehing tumuwuh, wantune wus katarbuka, tyase wong
sapraya kabeh mung haryanti, titi mring reh utama. (Dari Serat Sabdapranawa)
Arti :
Meninggalkan perbuatan buruk, tetap teratur tunduk perintah, selalu
rajin bekerja, bawahan dan atasan cocok-sesuai tak ada persengketaan, seia
sekata bersatu kemauan, dari segala makhluk, sebab telah terbukalah, tujuan
orang seluruh negara hanyalah kesejahteraan, faham akan arti ulah keutamaan.
5. Ngarataning mring saidenging
bumi, kehing para manggalaningpraya, nora kewuhan nundukake, pakarti agal
lembut, pulih kadi duk jaman nguni, tyase wong sanagara, teteg teguh, tanggon
sabarang sinedya, datan pisan nguciwa ing lahir batin, kang kesthi mung reh
tama. (Tembang Dandanggula, Serat Sabdapranawa)
Arti:
Merata keseluruh dunia; sebanyak-banyak pemimpin negara tak kesukaran
menjalankan perbuatan kasar-halus; kembalilah seperti dahulu kala, tujuan orang
seluruh negara, tetap berani sungguh, boleh dipercaya segala maksudnya, tak
sekali-kali tercela lahir batinnya, yang dituju hanyalah selamat sejahtera.
Posting Komentar